Sabtu, 07 Januari 2012

Ketua LPPI Makasar KH. M. Said: Syi'ah di Makasar Berpotensi Konflik



Keresahan umat Islam dengan maraknya penyebaran ajaran Syi’ah ternyata juga dialami oleh warga muslim Makasar. Salah seorang peneliti dari LPPI cabang Makasar KH. Muhammad Said Abdus Shamad, Lc, mengungkapkan permasalahan tersebut saat voa-islam.com berkesempatan mewawancarai beliau di PP Muhammadiyah Menteng Jakarta Pusat, Kamis (5/1/2012).
KH. Muhammad Said sebenarnya sengaja datang dari Makasar ke Jakarta untuk melaporkan temuannya mengenai penolakan gelar doktoral yang sedang ditempuh tokoh Syi’ah Jalaludin Rahmat di UIN Alaudin Makasar, kepada LPPI Pusat yang dipimpin H. Amin Jamaludin juga kepada sejumlah instansi terkait dan ormas-ormas Islam.
Di sela-sela waktu istirahatnya, anggota Komisi Dakwah MUI Makasar ini memaparkan kondisi penyebaran Syi’ah di daerahnya yang jika dibiarkan akan berpotensi terjadinya konflik seperti di Sampang, Madura. Berikut ini adalah kutipan wawancara voa-islam.com bersama KH. Muhammad Said Abdus Shamad, Lc.

Assalamu’alaikum wr.wb.  
Wa’alaikum salam wr.wb.

Langsung saja ustadz, sebagai seorang peniliti, bagaimana awal mula masuknya masuknya Syi’ah di Makasar?
Kalau di Makassar sendiri ajaran Syi’ah dimulai pada waktu revolusi Iran terjadi di bawah Ayatullah Khumaini, sehingga pelajar dan mahasiswa termasuk para dosen sangat tertarik membaca buku-buku yang berasal dari penulis-penulis Iran seperti Ali Syariati, Murtadha Muthahari dan lain-lain.

Apa yang menarik perhatian masyarakat Makasar terhadap Syi’ah?
Mereka tertarik sebenarnya kepada semangatnya namun dengan tanpa mereka sadari akhirnya mereka terlibat di dalam ajarannya, di mana Kang Jalal (Prof. Dr. Jalaludin Rahmat) itu sangat sering datang ke Makassar karena melihat antusias dan semangat dari warga makassar khususnya mahasiswa begitu besar.
Di situ (Syi’ah, red) juga ada kemudahan-kemudahan yang menarik umpamanya saja shalatnya 3 waktu; Shubuh, Dzuhur dan Ashar digabung, Maghrib dan Isa juga digabung.
Termasuk juga yang menarik mereka bahwa ada satu hal yang bisa memenuhi naluri dan keinginan mereka kepada wanita itu tidak perlu terlalu berbelit-belit yaitu dengan pernikahan yang disebut dengan nikah Mut’ah atau nikah kontrak.
Menurut temuan kami, nikah Mut’ah itu dilakukan oleh sebagian dari mahasiswa dan mahasiswi di lingkungan kampus, di Makasar itu kampus yang dikenal itu kan Unhas, UNM, UIN, UMI jadi di kampus-kampus ini sudah terkontaminasi.
Kami juga ada skripsi yang berjudul “Perempuan dalam Nikah Mut’ah” penyususn skripsi itu mengambil sampel dari mahasiswi-mahasiswi yang sudah melaksanakan nikah kontrak.
Di situ dikatakan bahwa wanita ini memakai jilbab yang cukup bagus, agamanya bagus tetapi dari seorang temannya di diajak untuk ikut kajian Syi’ah. Setelah dia ikut kajian Syi’ah maka barulah ia paham bahwa menurut yang dia dengar dalam kajian itu yang disampaikan begitu menarik, bahwa nikah mut’ah itu adalah sunnah Nabi dan berpahala melaksanakannya, kalau tidak dilaksanakan bedosa dan bisa kafir.

Selain kalangan mahasiswa kampus, syi’ar apa yang dilakukan penganut Syi’ah di tengan masyarakat?
Kalau yang nampak itu mereka mengadakan peringatan Asyura, syi’ar mereka itu dilakukan di gedung-gedung.
Mereka juga pintar, kalau ada ulama dari Iran mereka adakan diskusi dengan mendatangkan Prof. Dr. Qurays Shihab yang sepertinya dengan mereka cocok-cocok saja, sama Sunni cocok, Syi’ah juga cocok, mereka sangat senang dengan sikap yang seperti itu, karena dengan demikian mereka itu sepertinya diberi kebebasan dalam masyarakat.

Apakah maraknya penyebaran paham Syi’ah sudah sangat memprihatikan?
Oh iya, kami ini kan juga anggota MUI Makasar sebagai anggota Komisi Dakwah itu sangat prihatin karena MUI kan sudah mengeluarkan tentang rekomendasi tentang mewaspadai masuknya Syi’ah. Rekomendasinya itu intinya mengatakan; Syi’ah itu ajaran yang memiliki perbedaan pokok dengan ajaran ahlus sunnah wal jama’ah.

Lalu apa yang dilakukan instansi terkait untuk membendung maraknya paham Syi’ah?
Saya pribadi sebenarnya agak menyayangkan sikap dari MUI Makasar begitu juga MUI Sulsel, karena rupanya pikiran mereka itu pikiran yang moderat yang tidak terlalu memandang bahwa masalah ini adalah masalah yang perlu diperhatikan karena menganggap bahwa perbedaan ini adalah perbedaan yang sepele saja.
Apalagi di MUI Sulsel, pejabat terasnya itu sudah diundang ke Iran, sehingga setelah kembali memberi keterangan bahwa itu tidak begitu prinsip, hanya masalah imamah.
Kami sendiri sudah beberapa kali melapor ke MUI Sulsel juga MUI Makasar tetapi dibiarkan begitu saja, tidak direspon. Malah di antara MUI Makasar itu ada di antaranya yang berkata; “pak ustadz tidak perlu terlalu mengkritik Syi’ah, dia itu kan pusatnya di Iran, satu-satunya yang berani melawan Amerika dan barat kan Iran,” itu alasan mereka. Padahal menurut kami itu tidak benar.

Fatwa Resmi MUI Pusat Tentang Syi'ah


Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut:
Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.

Perbedaan itu di antaranya :

1. Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.

2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.

5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah

Ditetapkan : Jakarta, 7 Maret 1984 M
4 Jumadil Akhir 1404 H


KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua
ttd
Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML
Sekretaris
ttd
H. Musytari Yusuf, LA


Sumber: http://www.wahdah.or.id/
Fatwa selengkapnya dapat didownload di website www.mui.or.id ,

Jumat, 06 Januari 2012

Antara Hak Anak Dan Kewajiban Ibu




Oleh : Salamah Ummu Ismail

Anak, sebagai darah daging kedua orang tua, merupakan bagian yang tak terpisahkan   dari ibunya. Anak mempunyai hak-hak yang merupakan kewajiban orang tuanya, terutama ibunya, untuk menunaikan hak-hak tersebut. Jadi bukan hanya anak yang mempunyai kewajiban atas orang tua, tetapi orang tua pun mempunyai kewajiban atas anak. Secara ringkas kewajiban orang tua atas anaknya adalah sebagai berikut:

A.  Menyusui

Wajib atas seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah yang artinya: Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS AI Baqarah: 233)
Allah berfirman, yang artinya:Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. lbunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkanya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (QS Al Ahqaf 15). Al 'Allamah Siddiq Hasan Khan berkata, "Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Maksudnya, adalah jumlah waktu selama itu dihitung dari mulai hamil sampai disapih."

B.  Mendidiknya

Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Diasenantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammaddan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu. Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya, seperti mencucikan pakaiannya atau memberslhkan badannya saja. Bahkan mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan. Berikut beberapa perkara yang wajib diperhatikan oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya.

1.  Menanamkan Aqidah Yang Bersih

Menanamkan aqidah yang bersih, yang bersumber dari Kitab dan Sunnah yang shahih. Allah berfirman yang artinya: Maka ketahuilah bahwa sesugguhnya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah. (QS Muhammad: 19) Rasulullah bersabda, yang artinya. Dari Abul Abbas Abdullah bln Abbas, dia berkata: Pada suatu hari aku membonceng di belakang Nabi, kemudian beliau berkata, 'Wahai anak. Sesungguhnya aku mengajarimu beberapa kalimat, yaitu: jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadpanmu. Apablla engkau meminta, maka minta-lah kepada Allah. Dan apabila engkau mohon pertotongan, maka mohonlah pertotongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu satu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.
Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu satu bahaya, niscaya mereka tidak akan bisa membahayakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan tinta telah kering." Dan dalam riwayat lain (Beliau berkata), "Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Perkenalkanlah dirimu kepada Allah ketika kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan. Ketahuilah, apaapa yang (ditakdirkan) luput darimu, (maka) tidak akan menimpamu. Dan apa-apa yang (ditakdirkan) menimpamu, ia tidak akan luput darimu.Ketahuilah, bahwa pertolongan ada bersama kesabaran, kelapangan ada bersama kesempitan, dan bersama kesusahan ada kemudahan." Seorang anak terlahir di atas fitrah, sebagaimana sabda Rasulullah maka sesuatu yang sedikit saja akan berpengaruh padanya. Dan wanita muslimah adalah orang yang bersegera menanamkan agama yang mudah ini, serta menanamkan kecintaan tehadap agama ini kepada anak-anaknya.

2.  Mengajari Anak Shalat

Mengajarkan anak-anak shalat yaitu dalam hal-hal yang utamanya, wajib-wajibnya, waktunya, cara berwudhu dan dengan shalat dihadapan mereka. Demikian pula dengan pergi bersama mereka ke masjid, berdasarkan sabda Nabi dan hadits Sabrah, Perintahkanlah anak untuk shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun.
Dan jika mereka telah berumur sepuluh tahun (tetapi tidak shalat), maka pukullah mereka.
Hendaknya para ibu mengajarkan kepada mereka, bahwa shalat bukan hanya sekedargerakan atau rutinitas seorang hamba kepada Rabbnya. Akan tetapi, shalat merupakan hubungan yang dalam dan kuat antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Maka peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh, supaya tidak meninggalkan shalat. Berilah mereka ancaman bila meninggalkan perbuatan tersebut. Suruhlah mereka untuk senantiasa bersegera menunaikan shalat pada awal waktu. Allah di berfirman yang artinya: Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan
menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat serra mengerjakan amal shalih. (QS Maryam: 59-60).
Nabi bersabda, Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan sampai mereka mendirikan shalat, menunaikan cakat Apabila mereka melakukan itu, maka terjagalah dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka, kecuali merupakan hak Islam; dan perhitungan mereka atas Allah.Ibnu Hazm berkata, "Barangsiapa mengakhirkan shalat dan waktunya, maka dia itu hina"



3.  Menanamkan Kecintaan Kepada Allah dan RasuINya, dan Mendahulukan Keduanya

Dari Anas dia berkata, Rasulullah bersabda, "Tidak sempurna imam seseorang diantara kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia." Dengan menanamkan kecintaan kepada Allah dan RasuI-Nya di hati anak-anak akan mengantarkan mereka menyambut seruan Allah dan RasuINya. Dan ini menjadi motivasi dasar untuk seluruh yang mengikutinya.

4.  Mengajarkan Al Qur’an dan Menyuruh Anak-Anak Menghafalkan

Ini merupakan masalah besar yang hanya akan didapatkan oleh orang yang secara sungguh-sungguh berusaha menghafal dan mengamalkannya. Hendaklah ibu memulainya dengan menyuruh menghafal surat Al Fatihah dan surat-surat pendek. Demikian pula hendaklah kita menyuruh mereka menghafal at tahiwat untuk shalat.Hadits-hadits Nabi telah menunjukkan keutamaan itu semua. Diantaranya yang diri-wayatkan oleh Utsman bin Affan dari Nabi beliau bersabda,"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." Para ibu pada masa kejayaan Islam, benar-benar memotivasi anak-anaknya untuk mendapatkan kebaikan, terlebih lagi dari Al Qur'an, sebagaimana mereka mengusahakan kebaikan bagi jiwa anak-anaknya.

5.  Membuat Anak-Anak Cinta Kepada Sunnah Serta Menyuruh Mereka Menjaganya

Allah berfirman, yang artinya: Barangsiapa mentaati Rasul itu, maka sesunguhnya dia telah mentaati Allah (QS An Nisa: 80). Allah berfirman, yang artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS AI Hasyr:7). Nabi bersabda, dari hadits Irbadh bin Sariyah yang artinya: "Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mend-gar dan taat, meskipun yang memerintahkan kalian adalah budak dari Habasyah. Karena sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Berpegang teguhlah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat pentunjuk. Peganglah ia erat-erat, dan gigitlah ta dengan gerahammu."

KEADAAN WANITA DI SURGA




Oleh: Sulaiman ibn Shalih al Kharasyi


Sesungguhnya surga dan kenikmatannya tidaklah khusus bagi kaum laki-laki saja, akan tetapi surga itu: “Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran:133) dari dua jenismakhluk manusia; laki-laki dan perempuan, sebagaimana Allah Ta’ala telah mengabarkan yang demikian.“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga.”
(QS. an Nisa’:124)

Hendaklah setiap wanita tidak sibuk pikirannya dengan banyak pertanyaan dan penyelidikan tentang perincian masuknya dia ke dalam surga. Apa yang akan diperlakukan terhadapnya? Kemana ia akan pergi? Bagaimana nasibnya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Seakan-akan dia akan maju menuju padang pasir yang mematikan.! Cukuplah baginya mengetahui dan meyakini bahwa hanya dengan sekedar masuk ke dalam surga, akan sirna segala kepedihan dan kesusahan yang pernah dia alami. Dan yang demikian itu akan berubah menjadi kebahagiaan yang terus menerus, dan kekekalan yang abadi. Cukuplah baginya firman Allah tentang surga yaitu:“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.” (QS. al Hijr:48) Dan firman Allah “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. az Zukhruf:71) Dan sebelum itu semua cukuplah baginya firman Allah tentang penduduk surga yang artinya:“Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha terhadap-Nya.” (QS. al Maidah:119)

Di dunia, wanita tidak akan keluar dari beberapa keadaan berikut ini:

1. Adakalanya dia meninggal sebelum dia menikah.
2. Adakalanya dia meninggal setelah dia dicerai / ditalak dan sebelum menikah dengan suami yang lainnya.
3. Adakalanya dia sudah menikah akan tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surge bersamanya.  Wal’iyadzubillah.
4. Adakalanya dia mati setelah pernikahannya.
5. Adakalanya suaminya meninggal, dan dia tinggal dalam keadaan tanpa suami hingga dia mati.
6. Adakalanya suaminya meninggal, kemudian dia menikah dengan orang lain setelahnya.

Ini adalah keadaan kaum wanita di dunia. Maka bagi setiap keadaan ada balasan yang sepantasnya di surga, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengatur tentang hal itu:

1. Adapun wanita yang telah meninggal sebelum bersuami, maka dia akan dinikahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di surga dari seorang laki-laki dunia yang Allah kehendaki, berdasarkan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Dan tidaklah di dalam surga itu ada seorang yang bujang.” (HR. Muslim, 5062). Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Jika seorang wanita belum menikah di dunia, maka sesungguhnya Allah akan menikahkannya dengan suami yang bisa menyenangkannya di surga. Maka kenikmatan surga tidaklah terbatas hanya pada kaum laki-laki, akan tetapi diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Dan diantara bentuk kenikmatan surga adalah pernikahan.”
2. Wanita yang mati dalam keadaan ditalak atau janda maka iapun akan dijodohkan oleh Allah seperti wanita yang pertama.
3. Wanita shalihah yang suaminya tidak masuk surga juga demikian. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:”Jika seorang wanita termasuk penduduk surga dan dia belum menikah atau suaminya yang dulu (di dunia) bukan termasuk penduduk surga maka sesungguhnya jika dia telah masuk surga kemudian di sana ada penduduk surga yang belum menikah dari golongan laki-laki, maka salah seorang diantara mereka menikahinya.” Saya katakan:”Bahkan bisa saja dijodohkan dengan laki-laki yang sekufu (sebanding) meskipun laki-laki itu sudah mempunyai isteri lebih dari satu, seperti Asiyah isteri Fir’aun dan Maryam binti Imran, mereka dinikahkan oleh Allah di surga dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Karena tidak ada yang pantas menjadi pendampingnya kecuali Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir:4/495 pada surat at tahrim, Tafsir al Qurthubi:18/170, Fathul Qadir:4/231). Hisyam ibn Khalid berkata:”Suami masuk neraka, dan isterinya masuk surga, maka isterinya diwariskan kepada ahli surga sebagaimana isteri Fir’aun diwarisi oleh ahli surga.”(al Tadzkirah:461, Faidhul Qadir hadits no 7989, ad Durr al Mantsur:6/395,8/225).
4. Adapun wanita yang meninggal setelah pernikahannya, maka di surga dia akan tetap menjadi isteri dari suami yang ditinggal mati dulu.
5. Adapun wanita yang suaminya meninggal, kemudian dia tinggal dan tidak menikah sesudahnya sampai meninggal, maka dia akan menjadi isteri suaminya tersebut di surga.
6. Adapun wanita yang suaminya meninggal lebih dulu, kemudian dia menikah lagi setelahnya, maka sesungguhnya dia untuk suaminya yang terakhir, sekalipun isterinya itu banyak.

Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam “Isteri itu untuk suaminya yang terakhir.” (HR. al Baihaqi:7/70, Thabrani, Abu Ya’al dll).Dan berdasarkan perkataan Hudzaifah kepada isterinya:”Jika engkau berkeinginan menjadi isteriku di surga, maka janganlah menikah setelah (kematian)ku, dikarenakan seorang wanita di surga untuk suami-suaminya yang terakhir di dunia, oleh karena itulah Allah mengharamkan isteri-isteri Nabi untuk menikah setelah beliau, dikarenakan mereka adalah isteri-isteri beliau di surga.” (Silsilah as Shahihah, 3/275). Juga berdasarkan ucapan Ummu Darda’ (Hujaimah bin Hayy al Aushabiyyah) ketika dilamar oleh Mu’awiyyah radhiallahu anhu, dia menolak dan berkata: Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Isteri itu untuk suamimu yang terakhir” maka saya tidak ingin mengganti Abu Darda’ dengan yang lain. Ini adalah hadits shahih, lihat al Mathalib al Aliyyah :2/67, al Jami’ al Shaghir, Tafsir al Qurthubi, surat al Ahzab:229, Musykilul Atsar: 1/376, Fatawa al Ramli:6/268 dll.

Satu pendapat mengatakan: wanita itu untuk suaminya yang paling baik akhlaknya, yang jika ia diberi kebebasan untuk memilih pasti memilihnya. Pendapat ini didasarkan pada hadits Anas radhiallahu anhu dalam Mu’jam al Kabir, bahwa Ummu Habibah menanyakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tentang wanita yang bersuami lebih dari satu, maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab:”Ia untuk yang terbaik akhlaknya. Wahai Ummu Habibah baiknya akhlak telah membawa kebaikan dunia dan akhirat.” (Hadits Dha’if, lihat Ihya’ Ulumuddin :3/45, Ibnul Qayyim dalam Hadil Arwah: 158 dari Ummu Salamah, al Qurthubi dalam al Tadzkirah, tahqiq Hamid Ahmad Thahir:460)

Kamis, 05 Januari 2012

WASIAT PARA ULAMA TENTANG BID'AH


1. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

اَلْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْإِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

“Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi)


dan beliau juga berkata:

اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimi no. 211 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam ta’liq beliau terhadap Kitabul Ilmi karya Ibnul Qoyyim)

2. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)

3. Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:

فَإِيَّاكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ, فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ

“Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)

4. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada Utsman bin Hadhir:

عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِسْتِقَامَةِ, وَاتَّبِعْ وَلاَ تَبْتَدِعْ

“Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi no. 141)

Rabu, 04 Januari 2012

MANAGEMEN WAKTU SEORANG MUSLIM


Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an : “Sesungguhnya, Allah tidak akan merubah nasib seseorang/suatu kaum, sebelum seseorang/kaum tersebut mau merubah dirinya/kaumnya sendiri”

A. Memanfaatkan waktu dan Kendalanya
Pribadi muslim yang memahami hakekat hidup dan pentingnya waktu bagi dirinya (usianya), ia mengetahui benar bagaimana memanfaatkan waktu secara efisien untuk melakukan hal-hal yang positif agar hidup ini lebih bermakna dan diridhoi Allah SWT.
Sebaliknya, jika ia mengabaikan hal-hal tersebut, maka akan sia-sialah umurnya dan termasuk golongan orang-orang yang merugi, baik di dunia maupun akhirat.  Sebagaimana yang diungkapkan oleh Yahya bin Hurairah : “waktu adalah barang yang paling berharga untuk kamu jaga.  Menurutku ia adalah sesuatu yang mudah hilang darimu”
Dari uraian tersebut mengandung makna bahwa waktu merupakan barang yang paling berharga dibanding barang-barang yang lain dan harus dimanfaatkan seefisien mungkin.  Oleh karena itu sebagai pribadi muslim yang bijaksana dapat mengalokasikan waktu untuk hal-hal yang lebih produktif.
Adapun hal-hal yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan waktu antara lain :
1.Melakukan harokah (pergerakan) yang terarah ; yaitu suatu pergerakan yang terarah atas dasar ikhlas kepada Allah SWT, dan berjalan sesuai dengan manhaj salaffus sholeh.  Bagi seorang muslim yang ingin menguasai waktu, maka senantiasa berjalan (haroki) dengan  berbekal kalimatullah kemanapun kita pergi, baik di rumah, di sekolah, tempat ia mengajar, di tempat kerja atau ditempat-tempat lain.  Apabila seorang muslim telah melakukan hal ini, maka jiwanya tidak lagi kosong/hampa.
2.Bergaul dengan masyarakat : manusia adalah makhluk social yang membutuhkan teman dan masyarakat untuk berinteraksi dan bergaul baik secara batin maupun lahir.  Bergaul dengan masyarakat merupakan lahan terbaik bagi kita untuk mempergunakan waktu, dan metode ini telah ditempuh oleh para Nabi dalam mengisi waktu-waktu mereka.
3.Suka membantu orang lain : Agama Islam adalah agama harokah dan jihad,bukan agama yang penuh dengan khayalan dan janji-janji.  Agama Islam bukan agama yang hanya berlandaskan  teori dan nilai-nilai belaka, tetapi agama yang hidup dan bergaul dengan realita kehidupan.  Karena itu Nabi Muhammad SAW, menyeru kepada ummatnya, agar senantiasa berusaha membantu memenuhi kebutuhan orang lain, dengan sabdanya “Barang siapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi orang mukmin, maka Allah pasti melapangkan baginya suatu kesulitan di hari kiamat”
4.Lima Perkara yang Disukai Para Sahabat, yaitu :
o    Selalu bergabung (berjama’ah) dengan orang-orang yang sholeh yang aktif.
o    Mengikuti (ittiba’) sunnah Nabi
o    Memakmurkan masjid
o    Tilawatil Qur’an
o    Jihad Fil Sabilillah
5.Membaca Buku-Buku Islam : membaca adalah salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan waktu.  Orang yang banyak membaca ilmunya bertambah, wawasannya bertambah dan penyebab bertambahnya iman seseorang.  Selain itu dengan terus membaca dan menela’ah isi berbagai macam buku dan kitab akan memberikan kepada seseorang kemampuan untuk menganalisa dan mengemukakan pendapatnya secara benar dan apabila ia mengkritik sesuatu masalah dilakukan dengan dasar ilmu pengetahuan yang sesuai Al-Qur’an dan As Sunnah.
6.Bertamasya (Rihlah) dan berdiskusi : Bertamasya bersama adalah cara yang sangat baik untuk mengisi waktu dengan menghibur diri (hati), menambah khasanah ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang bermanfaat.  Berdiskusi atau seminar sebagai satu forum atau lahan untuk memanfaatkan waktu dengan efektif.  Dengan pengalaman berdiskusi menjadikan pribadi muslim ahli berargumentasi, dan mampu berpikir secara aktif.
7.Berolah Raga : Berolah raga merupakan sarana penting untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh.  Pribadi muslim yang bijaksana akan menjaga tubuhnya agar selalu sehat dan kuat sehingga mampu melaksanakan tugas-tugas dengan baik dan lancara.  Olah raga dapat dilakukan 2-3 kali per pecan atau menjadwalnya dengan baik, olah raga dapat dalam bentuk berlari-lari kecil, renang, beladiri, memanah, berkuda dan lain-lain dilakukan tanpa melanggar syari’at Islam, seperti menutup aurat, tidak berlebih-lebihan dalam olah raga sehingga meninggalkan sholat berjamaah.
Adapun kendala-kendala dalam memanfaatkan waktu antara lain :

Selasa, 03 Januari 2012

CARI JODOH LEWAT DUNIA MAYA, MUNGKINKAH?


Sebelumnya kami hanya membaca nasihat seperti ini di dunia maya. Akan tetapi setelah mendengar dan melihat langsung, dan kasusnya tidak hanya satu. Kami melihat bukti langsung bagaimana seorang laki-laki dan wanita, yang sudah mengenal agama dengan manhaj yang benar berdasarkan pemahaman sahabat, mereka berdua malah terjerumus dalam hal ini.Padahal kita sudah diajarkan bagaimana cara yang benar mencari jodoh yaitu dengan ta’aruf yang syar’i. Oleh karena itu maka kami coba mengangkat tema ini.

Umumnya Dilakukan Oleh Yang Kurang Imannya

Mungkin awalnya tidak bermaksud mencari jodoh, akan tetapi lemahnya iman yang membuatnya bermudah-mudah berhubungan dengan hubungan yang tidak halal, padahal mereka sudah mengetahui ilmunya. Inilah fenomena yang sering terjadi belakangan ini, wanita dibalik hijabnya yang tertutup rapat tetapi hijab kehormatannya tidak tertutup dibalik e-mail,inbox FB, dan SMS. Begitu juga dengan laki-laki dengan penisbatan mereka kepada, “as-salafi”, “al-atsari” dengan hiasan-hiasan status dan link berbau syar’i, akan tetapi sikap dan wara’-nya tidak menunjukkan demikian.

Hubungan laki-laki dengan wanita yang berujung cinta adalah kebahagian hati terbesar bagi manusia terutama pemuda, lebih-lebih bagi mereka yang belum pernah mecicipi sama sekali. Maka ketika bisa merasakan pertama kali sebagaimana berbuka puasa, sangat nikmat dan bahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه
“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151)
Mereka yang sudah paham tentu tidak leluasa melakukannya di dunia nyata, baik karena tidak ada kesempatan ataupun malu jika ketahuan. Akan tetapi kedua hal ini hilang ketika berkecimpung di dunia maya. Mulai dari cara halus dengan menyindir dan tersirat ke arah cinta tak halal sampai dengan cara terang-terangan. Ketika mereka merasakan nikmat perasaan cinta yang berbunga-bungan maka lemahnya iman tidak bisa membendung sebagaimana berbuka puasa. Sehingga terjalinlah cinta yang tidak diperkenankan syariat bahkan sampai ke arah pernikahan.


Terkesan Shalih dan Shalihah di Dunia Maya

Jangan langsung terburu-buru menilai seseorang alim atau shalih hanya karena melihat aktifitasnya di dunia maya. Sering meng-update status-status agama, menaut link-link agama dan terlihat sangat peduli dengan dakwah. Hal ini belum tentu dan tidak menjadi tolak ukur keshalihan seseorang. Dan apa yang ada di dunia maya adalah teori, bukan praktek langsung. Bisa jadi sesorang sering menulis status agama, menaut link syar’i tetapi malah mereka tidak melaksanakannya dan melanggarnya, apalagi ada beberpa orang yang bisa menjaga image alim di dunia maya, pandai merangkai kata, pandai menjaga diri dan pandai memilih kata-kata yang bisa memukai banyak orang
Tolak ukur kita bisa menilai keshalihan seseorang secara dzahir adalah takwa dan akhlaknya yang terkadang langsung bisa kita nilai dan melihatnya di dunia nyata, bukan menilai semata-mata bagaimana teorinya saja di dunia maya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)


Syaikh  Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini,
فمن اتقى الله و حقق تقواه, و خالق الناس غلى اختلاف طبقاتهم بالخلق الحسن
: فقد جاز لخير كله, لآنه قام بجق الله و حقوق الغباد,
ولآنه كان من المحسنين في عبادة الله, المحسنين إلى عباد الله
“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

Senin, 02 Januari 2012

CERITA MENGHARUKAN DARI ABU QUDAMAH


Abu Qudamah dahulu dikenal sebagai orang yang hatinya dipenuhi kecintaan akan jihad fi sabilillah. Tidak pernah dia mendengar akan jihad fi sabilillah, atau adanya perang antara kaum muslimin dengan orang kafir, kecuali dia selalu ikut serta bertempur di pihak kaum muslimin.

Suatu ketika saat ia sedang duduk-duduk di Masjidil Haram, ada seseorang yang menghampirinya seraya berkata: "Hai Abu Qudamah, anda adalah orang yang gemar berjihad di jalan Allah, maka ceritakanlah peristiwa paling ajaib yang pernah kau alami dalam berjihad."
"Baiklah, aku akan menceritakannya bagi kalian," kata Abu Qudamah.

"Suatu ketika aku berangkat bersama beberapa sahabatku untuk memerangi kaum Salibis di beberapa pos penjagaan dekat perbatasan. Dalam perjalanan itu aku melalui kota Raqqah (sebuah kota di Irak, dekat sungai Eufrat). Di sana aku membeli seekor unta yang akan kugunakan untuk membawa persenjataanku. Di samping itu aku mengajak warga kota lewat masjid-masjid, untuk ikut serta dalam jihad dan berinfak fi sabilillah.


Menjelang malam harinya, ada orang yang mengetuk pintu. Tatkala kubukakan, ternyata ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan gaunnya.


"Apa yang anda inginkan?" tanyaku.

"Andakah yang bernama Abu Qudamah?" katanya balik bertanya.
"Benar," jawabku.

"Andakah yang hari ini mengumpulkan dana untuk membantu jihad di perbatasan?" tanyanya kembali.

"Ya, benar," jawabku.

Maka wanita itu menyerahkan secarik kertas dan sebuah bungkusan terikat, kemudian berpaling sambil menangis.

Pada kertas itu tertulis, "Anda mengajak kami untuk ikut berjihad, namun aku tidak sanggup untuk itu. Maka kupotong dua buah kuncir kesayanganku1­­ agar Anda jadikan sebagai tali kuda Anda. Kuharap bila Allah melihatnya pada kuda Anda dalam jihad, Dia mengampuni dosaku karenanya."

"Demi Allah, aku kagum atas semangat dan kegigihannya untuk ikut berjihad, demikian pula dengan kerinduannya untuk mendapat ampunan Allah dan Surga-Nya," kata Abu Qudamah.


Keesokan harinya, aku bersama sahabatku beranjak meninggalkan Raqqah. Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada seseorang penunggang kuda yang memanggil-manggil,


"Hai Abu Qudamah.. Hai Abu Qudamah.. tunggulah sebentar, semoga Allah merahmatimu," teriak orang itu.


"Kalian berangkat saja duluan, biar aku yang mencari tahu tentang orang ini," perintahku kepada para sahabatku.


Ketika aku hendak menyapanya, orang itu mendahuluiku dan mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang mengizinkanku untuk ikut bersamamu, dan tidak menolak keikutsertaanku."


"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.

"Aku ingin ikut bersamamu memerangi orang-orang kafir," jawabnya.

"Perlihatkan wajahmu, aku ingin lihat, kalau engkau memang cukup dewasa dan wajib berjihad, akan aku terima. Namun jika masih kecil dan tidak wajib berjihad, terpaksa kutolak." kataku.

Ketika ia menyingkap wajahnya, tampaklah olehku wajah yang putih bersinar bak bulan purnama. Ternyata ia masih muda belia, dan umurnya baru 17 tahun.

"Wahai anakku, apakah kamu memiliki ayah?" tanyaku.

"Ayah terbunuh di tangan kaum Salibis dan aku ingin ikut bersamamu untuk memerangi orang-orang yang membunuh ayahku," jawabnya.

Bagaimana dengan ibumu, masih hidupkah dia?" tanyaku lagi.

"Ya," jawabnya.
"Kembalilah ke ibumu dan rawatlah ia baik-baik, karena surga ada di bawah telapak kakinya," pintaku kepadanya.

"Kau tidak kenal ibuku?" tanyanya

"Tidak," jawabku.
"Ibuku ialah pemilik titipan itu," katanya.
"Titipan yang mana," tanyaku

"Dialah yang menitipkan tali kuda itu," jawabnya.

"Tali kuda yang mana?" tanyaku keheranan.

"Subhanallah..!! Alangkah pelupanya Anda ini, tidak ingatkah Anda dengan wanita yang datang tadi malam menyerahkan seutas tali kuda dan bingkisan?"

"Ya , aku ingat," jawabku.

"Dialah ibuku! Dia menyuruhku untuk berjihad bersamamu dan mengambil sumpah dariku supaya aku tidak kembali lagi," katanya.

"Ibuku berkata, "Wahai anakku, jika kamu telah berhadapan dengan musuh, maka janganlah kamu melarikan diri. Persembahkanlah jiwamu untuk Allah. Mintalah kedudukan di sisi-Nya, dan mintalah agar engkau ditempatkan bersama ayah dan paman-pamanmu di Jannah. Jika Allah mengaruniaimu mati syahid, maka mintalah syafa'at bagiku."

Kemudian ibu memelukku, lalu menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, "Ya Allah.. ya Ilahi.. inilah puteraku, buah hati dan belahan jiwaku, kupersembahkan dia untukmu, maka dekatkanlah dia dengan ayahnya."

"Aku benar-benar takjub dengan anak ini," kata Abu Qudamah, lalu anak itupun segera menyela,
"Karenanya, kumohon atas nama Allah, janganlah engkau halangi aku untuk berjihad bersamamu. InsyaaAllah akulah asy-syahid putra asy-syahid. Aku telah hafal al-Qur'an. Aku juga jago menunggang kuda dan memanah. Maka janganlah meremehkanku hanya karena usiaku yang masih belia," kata anak itu memelas.

Setelah mendengar uraiannya aku tidak kuasa melarangnya, maka kusertakanlah ia bersamaku.


Demi Allah, ternyata tidak pernah kulihat orang yang lebih cekatan darinya. Ketika pasukan bergerak, dialah yang tercepat ketika kami singgah untuk beristirahat, dialah yang paling sibuk mengurus kami, sedang lisannya tidak pernah berhenti dari dzikrullah sama sekali.


Kemudian kamipun singgah di suatu tempat dekat pos perbatasan. Saat itu matahari hampir tenggelam dan kami dalam keadaan berpuasa. Maka ketika kami hendak menyiapkan hidangan untuk berbuka dan makan malam, bocah itu bersumpah atas nama Allah bahwa ialah yang akan menyiapkannya. Tentu saja kami melarangnya karena ia baru saja kecapaian selama perjalanan panjang tadi.


Akan tetapi bocah itu bersikeras untuk menyiapkan hidangan bagi kami. Maka ketika kami beristirahat di suatu tempat, kami katakan kepadanya, "Menjauhlah sedikit agar asap kayu bakarmu tidak mengganggu kami."


Maka bocah itupun mengambil tempat yang agak jauh dari kami untuk memasak. Akan tetapi bocah itu tidak kunjung tiba. Mereka merasa bahwa ia agak terlambat menyiapkan hidangan mereka.


"Hai Abu Qudamah, temuilah bocah itu. Ia sudah terlalu lama memasak. Ada apa dengannya?" pinta seseorang kepadaku. Lalu aku bergegas menemuinya, maka kudapati bocah itu telah menyalakan api unggun dan memasak sesuatu di atasnya. Tapi karena terlalu lelah, iapun tertidur sambil menyandarkan kepalanya pada sebuah batu.


Melihat kondisinya yang seperti itu, sungguh demi Allah aku tidak sampai hati mengganggu tidurnya, namun aku juga tidak mungkin kembali kepada sahabat-sahabatku dengan tangan hampa, karena sampai sekarang kami belum menyantap apa-apa.


Akhirnya kuputuskan untuk menyiapkan makanan itu sendiri. Akupun mulai meramu masakannya, dan sambil menyiapkan masakan, sesekali aku melirik bocah itu. Suatu ketika terlihat olehku bahwa bocah itu tersenyum. Lalu perlahan senyumnya makin melebar dan mulailah ia tertawa kegirangan.


Aku merasa takjub melihat tingkahnya tadi, kemudian ia tersentak dari mimpinya dan terbangun.

Ketika melihatku menyiapkan masakan sendirian, ia nampak gugup dan buru-buru mengatakan, "Paman, maafkan aku, nampaknya aku terlambat menyiapkan makanan bagi kalian."

"Ah tidak, kamu tidak terlambat kok," jawabku.

"Sudah, tinggalkan saja masakan ini, biar aku yang menyiapkannya, aku adalah pelayan kalian selama jihad," kata bocah itu.