Kamis, 16 Februari 2012

Ternyata,Nilai-nilai Agama adalah Wasiat Pertama Bagi Para Pemuda dari Seorang Putra Daerah SULTRA


 By: DR. LA ODE IDA (Wakil Ketua DPD RI)

Pertama, Fondasi diri (tanamkan dalam diri) sejak dini dengan ajaran dan nilai-nilai agama. Insya-Allah menjadi benteng dan saringan utama dari segala pengaruh yang merusak moralitas.

Kedua, Hargai orang tua yang telah berjasa tak terhingga dalam menghadirkan, membimbing dan membesarkan kita di dunia ini. Harus percaya bahwa kekecewaan atau sakit hati orang tua akibat ulah anak-anaknya merupakan bagian dari sumber kegagalan dunia akhirat bagi sang anak.

Ketiga, Hadirkan dan pelihara sikap toleransi antar sesama manusia serta juga makhluk Tuhan lainnya. Kita hidup dalam komunitas dan lintas komunitas yang berbeda satu sama lain, modal sosial yang harus diperkuat.

Keempat, Generasi muda (siswa dan mahasiswa) selalu harus tekun dalam belajar, menimba ilmu dan keterampilan. Harus selalu fokus dan konsetrasi pada bidang tertentu, karena daya saing kita ditentukan oleh kemampuan menguasai suatu bidang tertentu.

Kelima, Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya (seperti Jerman, Perancis, Cina, Jepang, Arab) sedapatnya mungkin dikuasai salah satunya, karena kita sudah menjadi warga negara global (we are global citizen). Keberhasilan dalam persaingan untuk memasuki lapangan kerja, misalnya, dan atau di berbagai bidang kehidupan pun kini dan masa datang akan san gat tergantung pada penguasaan bahasa asing yang terkait itu.

Keenam, Melatih diri untuk menjadi pemimpin, baik melalui organisasi intra maupun ekstra sekolah/kampus. Banyak wadah yang tersedia untuk membiasakan bersikap kritis-konstruktif dalam melihat dan menanggapi fenomena dan realita (permasalahan) yang terjadi di masyarakat dan pemerintahan. Namun harus selalu diingat, jangan sampai kita masuk dalam jebakan politik praktis yang akan mengganggu netralitas-obyektif yang dimiliki, bahkan mungkin merusak moralitas–utamanya terkait dengan orientasi dan tawaran fragmatis.

Ketujuh, Membaca buku, majalah, koran, sejenisnya harus dijadikan sebagai bagian dari kewajiban yang menyenangkan. Ini menjadi modal utama atau isi dalam otak kita.

Kedelapan, Selalu bersikap “jangan puas”, sehingga selalu ada upaya untuk meraih sesuatu yang lebih baik ketimbang yang kita miliki sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar