Jumat, 20 Januari 2012

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia



Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya  Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) sebuah wadah berkumpulnya para Intelektual dan Ulama Muda sebagai tuntutan dakwah yang sangat mendesak dari problematika umat yang menuntut jawaban konkrit di tingkat bawah.Wadah ini didirikan 3 Januari 2011 yang lalu.

Selain Pimpinan Umum WI, tokoh lainnya sebagai pendiri adalah Adian Husaini (Ketua Prodi Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun -UIKA, Bogor, Jawa Barat,  Muchlis M. Hanafi (Manager Program Pusat Studi Al-Aqur’an), M. Idrus Ramli (Pengurus NU Jember), Nashruddin Syarief dan Jeje Zaenuddin (PP Pemuda Persis), Fahmi Salim (Komisi Kajian & Penelitian MUI), Ahmad Sarwat (Rumah Fiqih Indonesia), Farid A. Okbah (Yayasan Al Islam), Fadzlan Garamatan (Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara), Henri Shalahuddin (Peneliti & Sekretaris Insists), Asep Sobari (Redaktur Majalah Gontor), M. Khudori (Alumnus Univ. Islam Madinah) serta Hamid Fahmy Zarkasyi (Direktur Insists) yang secara aklamasi ditunjuk sebagai Ketua Majelis Pimpinan MIUMI, dan Bachtiar Nasir sebagai Sekjend MIUMI.
Dikutip dari eramuslim.com, kalangan intelektual dan ulama muda, yang sekarang ini potensinya sangat besar dan tersebar di dalam dan luar negeri, yang secara individu maupun kolektif sudah memiliki agenda kegiatan serta aktif di berbagai ormas Islam di Indonesia.

Mencermati tantangan besar yang terus berkembang di tengah masyarakat yang kian modern itu, akhirnya beberapa aktivis dakwah, kalangan intelektual serta ulama muda ini, bertekad mengkonsentrasikan diri, menyatukan potensi untuk membangun kekuatan bersama.

Karena istilahnya, “sudah bersatu saja kita belum tentu mampu menghadapi tantangan umat yang begitu kuat, apalagi berjalan sendiri-sendiri,” tandas Ustadz Adian Husaini, Ketua Prodi Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor, Jawa Barat.

Dengan latar belakang keilmuan, keorganisasian, dan aktivitas yang begitu beragam, lanjut Adian, para intelektual dan ulama muda ini bersepakat untuk membangun kekuatan berasama guna menyatukan potensi yang ada.

“Sangat indah, berbagai latar belakang ini bersepakat untuk bersilaturahim dengan mengedepankan ukhuwah Islamiyah, menyatukan wawasan, serta mengkonsentrasikan diri pada masalah-masalah besar umat yang disepakati,” ujarnya seraya menmbahkan bahwa 15 ulama muda pendiri MIUMI ini sepakat untuk tidak mempertajam perbedaan-perbedaan di tingkat khilafiyah atau zhaniyah.

Ingin Memberi Harapan Baru
Para pendiri MIUMI ini meyakini wadah yang baru dibentuknya ini dapat memberikan harapan yang besar pada dunia dakwah Islam di Indonesia. Karena mereka sepakat kita tidak ingin menyaingi lembaga Islam atau ormas Islam yang sudah ada. Sebaliknya, justru MIUMI ini didirikan dengan semangat untuk memperkuat dan mendorong peran-peran dakwah yang telah ada, dengan penekanan basis ilmu dan riset yang kuat dalam upaya mengefektifkan peran amar makruf nahy munkar guna mewujudkan kebangkitan Islam di tanah air.

“Kita sepakat untuk memberikan yang terbaik untuk membantu ormas-ormas atau lembaga-lembaga yang sudah ada. Jadi keberdaan kami ini tidak untuk mempertajam perbedaan yang ada, tetapi kita ingin memberikan kontribusi yang yang nyata yang dibutuhklan oleh umat,” ungkap Bachtiar Nasir, yang ditunjuk sebagai Sekjend MIUMI karena dikenal sebagai ustadz non-partisan partai atau ormas Islam tertentu.

Kebangkitan Islam harus dimulai dari kebangkitan ulama yang berorientasi hanya kepada Allah dan bukan kepada materi. “Sebab dalam sejarahnya, kemunculan tokoh-tokoh besar seperti Shalahuddin Al-Ayyubi dalam pentas sejarah yang mengembalikan izzah umat Islam, tak lepas dari peran dan pengaruh program dan peta jalan kebangkitan yang dirumuskan oleh para Ulama besar seperti Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan ‘Abdul Qadir Al-Jilani.

Oleh sebab itu, untuk kebangkitan umat mutlak diperlukan kembalinya wibawa dan otoritas ulama di mata public dan mengefektifkan peran amar makruf nahy munkar yang berbasis ilmu dan riset yang kuat”, sehingga menjadi panduan para pengambil kebijakan dan umat di tanah air. Demikian papar Fahmi Salim, yang aktif di kepengurusan MUI Pusat Komisi Kajian dan Penelitian.

Ia juga menilai problem kebingungan umat di arus bawah saat ini terjadi disebabkan ambiguitas pernyataan para pemimpin umat dalam menyikapi isu-isu umat yang berkembang, seperti kasus Syiah yang muncul belakangan ini.


Ustadz M. Idrus Ramli dari NU Jember, menilai terbentuknya wadah ini sangat penting, untuk mengakomodasi kalangan intelektual dan ulama muda, yang memang sangat potensial dalam menggerakkan dakwah Islam di Tanah Air. “Karena di tangan kalangan mudalah dakwah Islam ini akan lebih efektif dan efisien di kemudian hari dalam menjawab tantangan zaman,” tegasnya.


Menurutnya, pada masa sekarang peran kaum inteletual dan ulama muda sangat dibutuhkan ketika para ulama senior yang sudah sepuh, banyak disibukkan dengan aktivitas keumatan yang besifat lokal dan nasional.


Ia melihat, akhir-akhir ini banyak ruangan kosong di tengah umat yang membutuhkan sentuhan para da’i, khususnya oleh kalangan intelektual dan ulama muda. “Seperti umat di kalangan mahasiswa, sekolah-sekolah menengah dan masyarakat pada umumnya,” ungkap M. Idrus.
Dalam diskusi diawal pertemuan pembentukan MIUMI ini, Ustadz M. Khudori dari Jakarta, menyatakan ormas dan lembaga Islam di Indonesia sangat banyak, tetapi tidak berwibawa. Setiap lembaga mengeluarkan fatwa, tapi persoalannya pada rendahnya tingkat penerimaan atau respon masyarakat terhadap fatwa tersebut.

“Respons kita selama ini terhadap persoalan-persoalan umat tidak orisinal, karena fatwa tersebut tidak didasari oleh basis penelitian yang kuat. Sehingga solusi yang kita sodorkan bersifat permukaan,” tandasnya.

Sehingga ia mengharapakan keberadaan MIUMI ini, dapat berfungsi sebagai penyalur bahan-bahan observasi berdasarkan penelitian kepada institusi-institusi yang sudah ada, yang lebih berkompoten mengeluarkan fatwa. “Produk-produk maupun kebijakan majelis ini harus menyentuh segmentasi yang jelas, yakni pada aplikasi umat di lapangan” tambahnya.

Berkaitan dengan sosialisasi fatwa, ustadz M. Idrus menegaskan sudah begitu banyak keputusan fatwa yang dikeluarkan oleh ormas Islam dan MUI, namun sosialisasinya masih terasa kurang efektif.

“Insya Allah melalui forum ini, fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan berbagai ormas, akan dapat diakses oleh kalangan yang lebih luas dan isosialisasikan lebih merata di berbagai lapisan kalangan masyarakat,” tutur ustadz yang tengah meneliti kasus Syiah di Sampang, Madura, baru-baru ini.

Sehingga, menurut M . Idrus, fungsi majelis MIUMI ini lebih pada aksi, yang harus menjadi solusi bagi persoalan yang selama ini dihadapi umat Islam.
“Dan tidak akan menajdi problem bagi ormas-ormas Islam yang sudah ada. Karena memang forum ini telah menjadi wadah bagi seluruh ormas Islam yang ada, khususnya bagi kaum intelektual dan ulama muda. Sama halnya dengan MUI yang menjadi wadah berbagai ormas Islam yang ada dari kalangan ulama senior,” tambahnya.

Ustadz kelahiran Papua, Fadzlan Gamaratan menegaskan bahwa wadah ulama muda ini harus sungguh-sungguh dan hanya berorientasi pada Allah untuk kemanangan Islam dan kejayaan umat Islam. “Bukan mementingkan kepentingan kelompoknya masing-masing,” ungkapnya. 
(sumber: eramuslim.com)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar